Hubungi kami +62218763609

Logika & Tuhan Jika Tuhan Ada Ia Harus Masuk Akal, Jika Tidak Kenapa Kamu Percaya?

Rp110.000
Penulis Julian Syahputra
Editor Adha Nafi’atur Rofiah, A Dulfikar, Mukhlis Yusuf Arbi
Kategori Aqidah & Tauhid
Halaman 677
Kertas Hitam Putih
Jenis Cover Soft Cover
Berat 0 gram
Dimensi 14,8 x 21 cm

 

Apakah Tuhan benar-benar ada? Ataukah kita sekadar mewarisi keyakinan tanpa pernah mengujinya? Pertanyaan itu barangkali terdengar sederhana, tetapi di zaman ketika ateisme menjelma tren intelektual, ketika sains dijadikan agama baru, dan ketika iman sering kali direduksi menjadi ritualistik kosong, kita perlu keberanian untuk bertanya ulang: jika logika adalah jalan berpikir manusia, mungkinkah ia justru mengantarkan kita kembali pada Tuhan?

 

 

Buku ini mengupas habis kontradiksi ateisme, menguliti mitos-mitos materialisme, dan membongkar kelemahan argumen mereka yang menafikan Tuhan. Dengan struktur berpikir yang tajam dan bahasa yang menghantam, Julian menghadirkan peta intelektual yang memaksa kita melihat: logika yang murni selalu berakhir pada pengakuan terhadap Tuhan.

 

 

Namun buku ini tidak lantas berhenti pada debat intelektual saja. Buku ini juga mengupas luka sejarah, dari propaganda Islamophobia, kelemahan umat dalam membaca agamanya, hingga jebakan modernitas yang sering kali membuat kita tercerabut dari akar spiritualitas. Setiap bab adalah undangan untuk berpikir ulang, meragukan ulang, dan pada akhirnya menemukan ulang: iman yang tegak bukan karena diwariskan, melainkan karena diuji dan dikukuhkan oleh akal sehat.

 

Buku ini bukan bacaan ringan, melainkan senjata wacana bagi siapa pun yang ingin berdiri tegak di tengah arus skeptisisme zaman. Membaca buku ini menuntut keberanian, karena membacanya berarti siap melihat gugurnya keyakinan rapuh yang mungkin kita kira sudah kokoh. Beranikah Anda? 

Tentang Penulis: Julian Syahputra

Julian Syahputra adalah seorang filsuf otodidak yang lahir dari keraguan dan tumbuh dalam kejujuran intelektual. Ia adalah mantan agnostik yang pernah menapaki berbagai rumah ibadah. Bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai upaya tulus untuk menguji kebenaran dengan mata terbuka dan hati yang enggan dibutakan oleh dogma. Ia tidak berasal dari lembaga keagamaan maupun menara gading akademik, melainkan dari ruang-ruang sunyi tempat pertanyaan-pertanyaan besar tumbuh liar tanpa sensor.

Julian hidup di antara dua dunia: dunia nyata yang riuh, dan dunia dalam kepalanya yang tak pernah benar-benar sunyi. Ia seorang pemikir yang lebih nyaman berdialog dengan ide daripada bersaing dalam keramaian. Ia bukan penyendiri yang menghindari hubungan sosial, ia hanya lebih sering berada di dalam dirinya.

Di dunia luar, Julian dikenal sebagai musisi profesional. Musik baginya bukan sekadar ekspresi, melainkan juga ruang kerja: tempat presisi teknis bertemu dengan kepekaan artistik. Ia menghidupi diri dari harmoni, menapaki panggung dan studio dengan ketelitian seorang teknisi dan sensitivitas seorang seniman.

Di sisi lain, Julian juga adalah seorang programmer komputer, bakat yang ia warisi dari ayahnya. Dunia pemrograman menjadi alter egonya: kanal bagi obsesinya terhadap pola, logika, dan sistem. Baginya, coding bukan semata komunikasi dengan mesin, melainkan cara untuk menertibkan kekacauan dunia melalui bahasa yang dimengerti semesta.

Anak dari seorang (ibu) pensiunan guru biologi ini, pun mencintai ilmu pengetahuan terutama biologi. Namun di atas segalanya, Julian hanyalah seorang pencari. Ia menulis bukan untuk menggurui, apalagi mendikte, tetapi untuk membangkitkan tanya. Ia lebih senang mengajak berpikir daripada mengajak sepakat.

Sebab baginya, kebenaran bukan milik mereka yang paling keras bicara, tetapi milik mereka yang paling jujur mencari. Iman yang berpijak pada akal tak akan pernah gentar menghadapi pertanyaan yang lahir dari hati yang tulus. Dan pada akhirnya, orang yang cerdas bukanlah mereka yang selalu punya jawaban, melainkan mereka yang tak pernah berhenti bertanya.